Selasa, November 08, 2011

Organisasi Kampus: Kawah Condrodhimuko Pencetak Mahasiswa Sukses

Berbicara mengenai rendahnya minat mahasiswa dalam berorganisasi di kampus, saya teringat buku karangan Fuad Nashori (2010) yang bersubtemakan Menjadi Mahasiswa Sukses. Mahasiswa yang jumlahnya kian hari semakin banyak, dapat dikelompokkan dalam beberapa golongan. Trow dan Clark (Nashori, 2010) mengelompokkan menjadi empat kelompok berdasarkan subkultur atau kebiasaan hidup.
Pertama, subkultur akademik. Mereka mempunyai ciri berorientasi hidup selaras dengan tujuan perguruan tinggi. Kehidupan mereka ini, lebih banyak berada di ruang kuliah, laboratorium, dan perpustakaan. Sebagain dari mereka menyempatkan waktu untuk mengikuti kegiatan-kegiatan non akademik dengan tujuan pengembangan diri. Mereka kurang menyukai kegiatan hura-hura karena dianggapnya cuma membuang-buang waktu.
Kelompok kedua, subkultur vokasioanl. Kelompok ini memandang perguruan tinggi (PT) hanya sebagai ‘tangga’ untuk memasuki dunia kerja, karena mendambakan adanya mobilitas sosial ekonomi yang lebih baik. Yang menjadi sasaran mahasiswa semacam ini adalah cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan dengan gaji dan kedudukan yang memuaskan. Beda dengan kelompok yang pertama, kelompok kedua ini tidak memprioritaskan peningkatan kualitas intelektualitasnya.
Kelompok ketiga, subkultur kolegiat. Mahasiswa kelompok ini amat menyukai kegiatan yang berbau hura-hura, olahraga, kesenian, dan banyak terlibat dalam kegiatan sosial walaupun mungkin hanya sebagai ‘penggembira’ saja. Aspek intelektual dan acara-acara serius tak begitu diminati. Untuk masalah kuliah nilai pas-pasan cukup bagi mahasiswa semacam ini.
Kelompok keempat, golongan subkultur non-konformis. Mungkin ini kelompok yang agak langka. Masa kuliah digunakan untuk mengejar hasrat pribadi dalam memahami bidang keilmuan. Mereka memiliki keluasan wawasan. Mempunyai kegandrungan intelektual yang besar. Mempunyai kiat-kiat tersendiri dalam menguatkan kompetensi keilmuan, terutama melalui jalur informal. Justru hal yang formal kurang disukainya. Mahasiswa semacam ini akan mencari pengalaman sebanyak mungkin yang digemarinya. Biasa terlibat dalam organisasi kemahasiswaan di kampus dan cenderung menjadi tokohnya.

Tipe Mahasiswa Paling Sukses
Pertanyaan selanjutnya, kelompok mana yang paling sukses? ada dua ukuran yang dapat digunakan untuk menilai apakah seorang mahasiwa itu telah berhasil atau tidak. Parameter pertama adalah prestasi akademik yang terlihat dari tinggi indeks prestasi (IP) yang dicapai. Benar adanya bahwa mahasiswa yang mempunyai kebiasaan selaras dengan tujuan perguruan tinggi adalah peraih IP tertinggi. Dari hasil penelitian Hodgins dengan menggunakan teori Trow dan Clark (Akhson, 1991: Nashori 2010) diungkap bahwa urutan peraih IP tertinggi adalah kelompok non-konformis, kelompok akademik, kelompok vokasional, dan kelompok kolegiat. Mengapa mahasiswa non-konformis mempunyai IP yang lebih tinggi dibanding mahasiswa akademik?
Di atas telah penulis kemukakan bahwa mahasiswa non-konformis memiliki kecenderungan intelektual yang tinggi. Mereka menempuh cara-cara mendapatkan ilmu secara “luwes”. Mempunyai peluang yang lebih untuk memahami materi kuliah secara mendalam melalui berbagai sumber. Keunggulan kelompok non-konformis ini akan lebih optimal jika dosen menggunakan pendekatan SCL (student centered learning). Karena metode belajar yang bervariasi dalam SCL sangat dirasa mampu menyesuaikan dengan kebiasaan mahasiswa non-konformis. Sehingga dikatakan mahasiswa non-konformis unggul dibanding yang lain, terutama bila pengukuran IP lebih menekankan logika (rasio) dan bukan semata-mata kemampuan ingatan (hafalan). Lain halnya dengan mahasiswa akademik yang hanya tergantung dan mengandalkan pada materi yang diberikan diruang kuliah saja.
Parameter kedua, yaitu dengan melihat kesuksesan hidup. Berbagai studi yang dilakukan para ahli mengungkapkan bahwa prestasi yang tinggi belum tentu berkorelasi dengan kesuksesan di dunia kerja. Sebuah penelitian ditunjukkan oleh Daniel Goleman terhadap 81 orang lulusan paling top dari sejumlah SMTA di Illionois, Amerika Serikat. Penelitian ini mendapati beberapa hal yang baru, diantaranya saat kuliah mereka memperoleh nilai yang memuaskan. Akan tetapi, menjelang usia 30 tahun, dalam kiprah kariernya, tingkat kesuksesannya biasa-biasa saja. Sepuluh tahun setelah lulus SMTA, hanya seperempat dari mereka yang mencapai puncak tangga profesi untuk tingkat usia mereka. Mengapa? Goleman meyakini bahwa kecerdasan akademik perlu ditunjang oleh bekal ‘kecakapan untuk hidup.’ Secara emosional mereka belum cukup dewasa, bahkan masih sering direpotkan oleh pertentangan dalam diri sendiri. Sehinggga, fokus pada pekerjaan kacau, berpikir pun bak ‘benang kusus.’ Kecerdasan emosional yang dimiliki seseorang diperoleh melalui latihan dan pengalaman. Dan ‘orang’ non-konformis, yang gandrung akan keintelektualan, gemar berorganisasi dan mencari pengalaman, dapatlah dipandang mempunyai kemungkinan yang lebih besar menjadi manusia-manusia sukses di masa mendatang.
Mahasiswa dan Kedudukannya di Masyarakat
Mahasiswa menempati kedudukan yang khas (special position) di masyakarat, baik dalam artian masyarakat kampus maupun di luar kampus. Kekhasan ini tampak pada serentetan atribut yang disandang mahasiswa misal: intelektual muda, kelompok penekan (pressure group), agen perubahan (agent of change), dan kelompok anti status quo.
Memang boleh dikatakan bahwa tugas awal mahasiswa adalah menekui bidang keilmuan tertentu dalam lembaga pendidikan formal. Sehingga, tidak jarang kelompok ini sering disebut sebagai ‘golongan intelektual muda’ yang penuh bakat dan potensial. Namun, posisi (dan status) yang demikian itu sudah barang tentu bersifat sementara karena kelak dikemudian hari mereka tidak lagi mahasiswa dan justru menjadi pelaku-pelaku inti dalam kehidupan suatu negara atau masyarakat. Dengan demikian, penulis rasa tak cukup mahasiswa hanya sekedar duduk manis mendengarkan dosen ceramah di kelas. Sudah saatnya mahasiswa mampu menjadi—meminjam istilah Mario Teguh—pribadi-pribadi yang unggul. Hal itu bisa ia lakukan dengan ikut bergabung dalam organisasi-organisasi di kampus. Karena di sanalah, tempat yang dianggap tepat sebagai ‘kawah condrodhimuko’ untuk sekedar sebagai batu loncatan awal. Menjadi mahasiswa sukses. Demikian. Bagaimana menurut Anda?


sumber : netsains.com

Kamis, November 03, 2011

Isolasi Rongga Mulut


Ø  Pengertian Isolasi Rongga Mulut
Suatu tehnik yang didesain  untuk mengeluarkan cairan dan serpihan dironggga mulut.
Ø  Tujuan Isolasi Rongga Mulut
Untuk memelihara daerah perawatan agar tetap bersih, kering asepsis, bebas dari kontaminasi air ludah. Selain itu juga untuk meminimalkan gerakan pasien untuk selalu duduk tegak untuk berkumur kumur.
Ø  Macam Macam Alat untuk Isolasi Rongga Mulut dan Aplikasi
ü  Saliva ejector
Merupakan alat isolasi rongga mulut yang berguna untuk menyedot saliva dalam proses perawatan gigi. Dan merupakan  salah satu Assistant’s Unit yang berada di sebelah kiri pasien, sehingga seorang asisten bertanggungjawab penuh dalam mengoperasikan alat ini.
Seorang asisten bertanggungjawab penuh dalam mengoperasikan saliva ejector, terutama pada saat :
a.       Preparasi Kavitas
b.      Sterilisasi Kavitas
c.       Scaling
d.      Penumpatan bahan tambalan
Cara pengoperasian saliva ejector :
a.       Pasangkan disposible tip pada saliva ejektor
b.      Tekan tombol ON pada dental unit
c.       Putarlah tombol saliva ejector sehingga terdengar gemuruh udara.
d.      Masukkan saliva ejector ke dalam rongga mulut terutama pada daerah vestibulum oris bawah dan di bawah lidah.
e.      Jika tidak dibutuhkan taruhlah kembali ke tempatnya

ü  Suction
Kerja suction hampir sama dengan saliva ejector, hanya yang disedot adalah selain air ludah juga dapat menyedot darah. Jadi suction lebih tepat digunakan pada tindakan exodontia atau bedah mulut dan merupakan bagian dari assistant’s unit.

ü  Tongue Holder
Tongue holder merupakan alat isolasi rongga mulut dengan sistem kerja penahan lidah untuk mempermudah proses kerja operator dalam perawatan.
Tongue Holder tdiri atas :
          Penahan lidah
          Penahan dagu
          Tangkai dan klep
          Klep penjepit
          Klep pengatur penahan dagu
Cara Pemasangan Tongue Holder :
          Tentukan sisi mana yang akan dipasang tongue holder
          Pasang penahan lidah pada tangkai dan klep
          Pasang kapas pada lidah.
          Tongue holder siap dipasang
          Atur klep penahan dagu.

ü  Cotton Roll
Cotton roll merupakan bahan yang berbentuk gulungan yang diletakkan pada sebelah bukal/labial dan lingual tergantung elemen gigi yang dirawat. Pemakaian isolasi rongga mulut yang lain dapat digantikan oleh cotton roll, ketika dilakukan tahap penambalan gigi. Cotton roll dapat terbuat dari kapas atau kertas tissue, hal ini tergantung kesukaan operator.
Syarat Pembuatan cotton roll:
          Untuk dewasa :
Panjang : 3-4 elemen gigi
Diameter : 1 cm
          Untuk anak  anak :
Panjang : 3-4 elemen gigi sulung
Diameter : 0,5 cm

Rubber dam
Tujuan penggunakan rubber dam:
          Untuk memelihara daerah operasi agar tetap bersih, kering, asepsis, bebas dari kontaminasi saliva.
           Untuk menjaga pasien supaya tidak tertelan instrument yang kecil, bahan pengisi, obat obatan, jaringan, pulpa yang nekrosis.
          Melindungi lidah,pipi dan bibir atau semua jaringan lunak supaya tidak terluka oleh alat alat yang dipakai.
           Memberi kenyamanan pada pasien sehingga pasien merasa enak karena dilindungi oleh alat ini.
Rubber dam terdiri atas:
          Rubber dam holder : Berbentuk kerangka atau frame dari logam/plastik berbentuk huruf ‘U’.
          Dental Floss : Untuk mencarikan jalan bila daerah interproximal terlalu berdempetan.
Fungsi untuk menahan rubber sheet supaya tidak terjadi kebocoran di sekitar    gigi yang dirawat
          Forceps: Untuk memasang dan melepas clamps
          Clamps: Untuk memegang rubber sheet pada gigi dan menyisihkan gingiva dari gigi.
          Rubber dam punc: untuk membuat lubang pada rubber sheet 0,5 – 2,5 mm.
          Rubber dam stamp: berupa karet dan tinta, memberi tanda letak gigi
          Rubber sheets: berupa lembaran dg ukuran 5x5 inchi; 6x6 inchi.
          Warna : hijau/abu abu/putih.
          Rubber sheet punc: Bentuk alat seperti tang dengan satu sisi berbentuk roda dan sisi lain berbentuk seperti karet runcing, dimana bagian yang runcing akan masuk ke dalam lubang. Kalau punc ditekan maka rubber sheet yang telah diberi tanda akan berlubang,
Teknik pemasangan Rubber dam:
          Menjelaskan pada pasien apa yang akan kita kerjakan
          Bila ada kalkulus harus discaling
          Memilih clamp yang akan dipakai dan dicobakan
          Gunakan dental floss pada kontak point untuk memudahkan rubber sheet masuk
          Pemasangan rubber sheet
          Cek nafas pasien, apakah terganggu karena tertutup rubber sheets atau tidak
          Gigi dikeringkan
          Memasang saliva ejector
          Oleskan larutan antiseptik pada gigi dan rubber dam di sekitar gigi.
Cara memasang rubber dam:
·         Ambil dental floss dengan panjang secukupnya untuk memngikat clamps.
·         Gunanya jika clamp lepas tidak akan jatuh/ tertelan.
·         Kemudian clamp dipasang pada gigi
Jadi cara memasang rubber dam ada 2 yaitu:
1.       Memasang rubber  memasang sheet dulu baru memasang clamp.
2.       Memasang clamp dulu baru memasukkan  sheet
Cara menstabilkan rubber dam sheet adalah dengan dental floss dengan mengikat gigi yang sudah diberi clamp. Atau gunakan wood wedge yaitu kayu yang berbentuk seperti piramid. Bila rubber dam bocor sehingga saliva keluar menggenangi gigi yang dirawat maka gunakan cavit/tumpatan sementara untuk menambalnya.
Cara melepas rubber dam
Untuk isolasi lebih dari 1 gigi :
§  Rubber sheet ditarik sehingga lubang menjadi lebih besar.
§  Rubber sheet tersebut digunting pada bagian yang ditarik diantara 2 gigi, sehingga didapatkan 2 lubang yang menjadi 1
§  Rubber sheet digunting seluruhnya sehingga didapat 2 lubang yang bersambung dan kita lepas
§  Melepas clamp bersama sama seluruh rubber sheet dan frame.

Posisi Kerja Dalam FHD


ž  Dental Assistant bertugas sebagai asisten yang mengisi Rekam Medis, melakukan tindakan Preventive Dentistry seperti membersihkan karang gigi secara mandiri, serta membantu dokter gigi mengambil alat, menyiapkan bahan, mengontrol saliva, membersihkan mulut, serta mengatur cahaya lampu selama suatu prosedur perawatan sedang dilakukan 

ž  Pada saat suatu pelayanan kedokteran gigi dilakukan hanya akan ada 2 orang yang berada disekitar pasien yaitu Dokter Gigi dan Perawat Gigi. Tugas kedua orang ini berbeda namun saling mendukung, ini kemudian melahirkan istilah Four Handed Dentistry.PEMBAGIAN POSISI KERJA
-Posisi ini merupakan posisi yang diidentikkan dengan arah jarum jam, dengan asumsi kepala pasien sebagai pusat (jam12).
-Posisi kerja dapat berubah-ubah tergantung lingkungan klinik, perawatan, serta kenyamanan dalam kerja.
-Posisi kerja antara asisten dan operator dibagi-bagi ke dalam zona kerja tertentu.
ž  Pembagian zona kerja (clock concept)
1.       Zona operator
        Posisi jam 7-12. Zona ini merupakan zona untuk pergerakan operator saat melakukan perawatan
2.       Zona asisten
Posisi jam 2-4. Zona ini merupakan zona untuk pergerakan asisten. Posisi asisten dapat berubah-ubah menyesuaikan posisi operator.
3.       Zona statis
        Posisi jam 12-2. Zona ini digunakan untuk tempat meja instrumen dan bahan.
4.       Zona transfer
        Posisi jam 4-7. Merupakan zona yang digunakan untuk mentransfer alat2 dari asisten ke operator.
ž  Posisi operator dan asisten berdasarkan arah jarum jam
Dahulu digunakan untuk merawat bagian anterior rahang. Akan tetapi saat ini sudah jarang digunakan, karena :
                - tubuh operator menutup cahaya lampu
                - posisi tubuh operator miring ke kanan
ü  Kaca mulut untuk meretrak pipi
ü  Pandangan dan sinar langsung
ž  Bagian palatal dan oklusal
ü  Tangan melingkari pasien
ü  Bantuan pandangan dan cahaya dari kaca mulut
ü  Kepala pasien lurus ke depan
ü  Sandaran jari kaca mulut di insisivus central/lateral
ü  Sandaran HP di bukal M1/M2 meretraks bibir scr otomatis
Quadran 2
ž  Bagian palatal, dan oklusal
ü  Kepala serong/menengok ke kanan
ü  Kaca mulut jauh dr oklusal, mendekati oklusal rahang bawah
ü  Sandaran jari di bukal M1/M2
ž  Bagian bukal
ü  Kepala serong/menengok ke kanan
ü  Kaca mulut untuk meretrak pipi
Quadran III
ž  Bagian bukal
ü  Kepala menghadap ke operator
ü  Pandangan dan sinar secara langsung
ü  Kaca mulut meretrak mukosa bibir
ž  Bagian lingual dan oklusal
ü  Kepala serong ke kanan
ü  Pandangan secara langsung
ü  Kaca mulut untuk menghantarkan sinar
Quadran IV
ž  Bagian bukal dan oklusal
ü  Kaca mulut untuk meretrak pipi
ü  Sinar dan pandangan langsung
ž  Bagian lingual
ü  kepala serong ke kanan
ü  Pandangan langsung/tidak langsung
ü  Kaca mulut untuk meretrak pipi atau menghantarkan sinar
ž  Palatal anterior rahang atas
ü  Pasien menghadap ke depan
ü  Sinar dan pandangan melalui kaca mulut
ž  Labial anterior rahang atas
ü  Pandangan dan sinar langsung
ü  Kaca mulut untuk meretrak bibir depan
ž  Lingual anterior rahang bawah
ü  Pandangan langsung, sinar tidak langsung
ž  Labial anterior rahang bawah
ü  Pandangan tidak langsung, sinar langsung